Featured Post 3

This Blog is Under Construction

Rabu, 03 Maret 2010

Pentingnya Bahasa Arab (Part 1)



Manusia menjadi buta agama, bodoh dan selalu berselisih paham lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles. (Imam Syafi’i)

Itulah ungkapan Imam Syafi’i buat umat, agar kita jangan memarginalkan bahasa kebanggaan umat Islam. Seandainya sang imam menyaksikan sikap umat sekarang ini terhadap bahasa Arab, tentulah keprihatian beliau akan semakin memuncak.



Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lain yang menjadi alat komunikasi
di kalangan umat manusia. Ragam keunggulan bahasa Arab begitu banyak.
Idealnya, umat Islam mencurahkan perhatiannya terhadap bahasa ini.
Baik dengan mempelajarinya untuk diri mereka sendiri ataupun memfasilitasi
dan mengarahkan anak-anak untuk tujuan tersebut.


Di masa lampau, bahasa Arab sangat mendapatkan tempat di hati kaum
muslimin. Ulama dan bahkan para khalifah tidak melihatnya dengan sebelah
mata. Fashahah (kebenaran dalam berbahasa) dan ketajaman lidah dalam
berbahasa menjadi salah satu indikasi keberhasilan orang tua dalam
mendidik anaknya saat masa kecil.


Redupnya perhatian terhadap bahasa Arab nampak ketika penyebaran Islam
sudah memasuki negara- negara ‘ajam (non Arab). Antar ras saling berinteraksi
dan bersatu di bawah payung Islam. Kesalahan ejaan semakin dominan
dalam perbincangan. Apalagi bila dicermati realita umat Islam sekarang
pada umumnya, banyak yang menganaktirikan bahasa Arab. Yang cukup
memprihatinkan, para orang tua kurang mendorong anak-anaknya agar
dapat menekuni bahasa Arab ini.

Keistimewaan Bahasa Arab

  1. Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran. Allah berfirman:



    Sesungguhnya Kami telah menjadikan AI Quran dalam bahasa Arab, supaya
    kalian memahamimya.



  2. Bahasa Arab adalah bahasa Nabi Muhammad dan bahasa verbal para sahabat.
    Hadits-hadits Nabi yang sampai kepada kita dengan berbahasa Arab.
    Demikian juga kitab-kitab fikih, tertulis dengan bahasa ini. Oleh
    karena itu, penguasaan bahasa Arab menjadi pintu gerbang dalam memahaminya.

  3. Susunan kata bahasa Arab tidak banyak. Kebanyakan terdiri atas susunan
    tiga huruf saja. Ini akan mempermudah pemahaman dan pengucapannya.

  4. Indahnya kosa kata Arab. Orang yang mencermati ungkapan dan kalimat
    dalam bahasa Arab, ia akan merasakan sebuah ungkapan yang indah dan
    gamblang, tersusun dengan kata-kata yang ringkas dan padat.


Petunjuk Urgensi Belajar Bahasa Arab

  1. Teguran keras terhadap kekeliruan dalam berbahasa.


    Berbahasa yang baik dan benar sudah menjadi tradisi generasi Salaf.
    Oleh karena itu, kekeliruan dalam pengucapan ataupun ungkapan yang
    tidak seirama dengan kaidah bakunya dianggap sebagai cacat, yang mengurangi
    martabat di mata orang banyak. Apalagi bila hal itu terjadi pada orang
    yang terpandang. Ibnul Anbari menyatakan:



    "Bagaimana mungkin perkataan yang keliru dianggap baik…?
    Bangsa Arab sangat menyukai orang yang berbahasa baik dan benar, memandang
    orang-orang yang keliru dengan sebelah mata dan menyingkirkan mereka".


    Umar bin Khaththab pernah mengomentari cara memanah beberapa orang
    dengan berucap: "Alangkah buruk bidikan panah kalian".
    Mereka menjawab, "Nahnu qawmun muta’alimiina (kami
    adalah para pemula)",
    maka Umar berkata,



    ‘Kesalahan berbahasa kalian lebih fatal menurutku daripada buruknya
    bidikan kalian…"



  2. Perhatian salaf terhadap bahasa Arab.


    Umar bin Khaththab pernah rnenulis surat kepada Abu Musa yang berisi
    pesan: "Amma ba’du, pahamilah sunnah dan pelajarilah bahasa
    Arab".


    Pada kesempatan lain, beliau mengatakan:



    "Semoga Allah merahmati orang yang meluruskan lisannya (dengan
    belajar bahasa Arab)’.


    Pada kesempatan lain lagi, beliau menyatakan:


    "Pelajarilah agama, dan ibadah yang baik, serta mendalami
    bahasa Arab".


    Beliau juga mengatakan:



    "Pelajarilah bahasa Arab, sebab ia mampu menguatkan akal
    dan menambah kehormatan".


    Para ulama tidak mengecilkan arti bahasa Arab. Mereka tetap memberikan
    perhatian yang besar dalam menekuninya, layaknya ilmu syar’i lainnya.

    Sebab bahasa Arab adalah perangkat dan sarana untuk memahami ilmu
    syariat. Imam Syafi’i pernah berkata:



    "Aku tinggal dipedesaan selama dua puluh tahun. Aku pelajari
    syair- syair dan bahasa mereka. Aku menghafal Al Qur’an. Tidak pernah
    ada satu kata yang lewat olehku, kecuali aku memahami maknanya".


    Imam Syafi’i telah mencapai puncak dalam penguasaan bahasa Arab, sehingga
    dijuluki sebagai orang Quraisy yang paling fasih pada masanya. Dia
    termasuk yang menjadi rujukan bahasa Arab.


    Ibnul Qayyim juga dikenal memiliki perhatian yang kuat terhadap bahasa

    Arab. Beliau mempelajari dari kitab Al Mulakhkhash karya Abul
    Baqa’, Al Jurjaniyah, Alfiyah Ibni Malik, Al Kafiyah Asy Syafiah dan
    At Tashil, Ibnul Fathi Al Ba’li. Beliau juga belajar dari Ali bin
    Majd At Tusi.


    Ulama lain yang terkenal memiliki perhatian yang besar terhadap bahasa
    Arab adalah Imam Syaukani. Ulama ini menimba ilmu nahwu dan sharaf
    dari tiga ulama sekaligus, yaitu: Sayyid Isma’il bin Al Hasan, Allamah
    Abdullah bin Ismail An Nahmi, dan Allamah Qasim bin Muhammad Al Khaulani.



  3. Anak-anak khalifah juga belajar bahasa Arab.


    Para khalifah, dahulu juga memberikan perhatian besar terhadap bahasa
    Arab. Selain mengajarkan pada anak-anak dengan ilmu- ilmu agama, mereka
    juga memberikan jadwal khusus untuk memperdalam bahasa Arab dan sastranya.
    Motivasi mereka, lantaran mengetahui nilai positif bahasa Arab terhadap

    gaya ucapan mereka, penanaman budi pekerti, perbaikan ungkapan dalam
    berbicara, modal dasar mempelajari Islam dari referensinya. Oleh karena
    itu, ulama bahasa Arab juga memiliki kedudukan dalam pemerintahan
    dan dekat dengan para khalifah. Para pakar bahasa menjadi guru untuk
    anak-anak khalifah.


    Al Ahmar An Nahwi berkata,



    "Aku diperintahkan Ar Rasyid untuk mengajarkan sastra Arab
    kepada anaknya, Muhammad Al Amin. Al Makmun dan Al Amin juga pernah
    dididik pakar bahasa yang bernama Abul Hasan ‘Ali bin Hamzah Al Kisa
    i yang menjadi orang dekat Khalifah. Demikian juga pakar bahasa lain
    yang dikenal dengan Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin As Sari mengajari
    anak-anak Khalifah AlMu’tadhid pelajaran bahasa Arab. Juga Abu Qadim
    Abu Ja’far Muhammad bin Qadim mengajari Al Mu’taz sebelum memegang
    tampuk pemerintahan".(vbaitullah.or.id)

To Part 2 >>>



0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons