Featured Post 3

This Blog is Under Construction

Minggu, 07 Februari 2010

Mengenal Raden Patah Lebih Jauh


Berdasarkan dokumen-dokumen yang ada, Kemaharajaan Majapahit ternyata tidak runtuh di tahun 1478. Tetapi tahun itu ternyata bukan tahun yang tidak penting. Setidaknya ada dua kejadian besar yang langsung menyangkut nasib bumi Jawa : berdirinya Kesultanan Demak dan perebutan kekuasaan di ibukota Majapahit.

Pada tahun itulah raja pertama Demak mulai memerintah. Di catatan-catatan Jawa dia disebut dangan nama Raden Patah. Dari kata Arab : Al Fatah, berarti kemenangan gemilang. Pada awalnya, dia masih mengakui Maharaja Majapahit sebagai atasannya.


Dari gelarnya, yaitu raden, dapat diduga ia bertalian darah dengan penguasa lama. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah anak Maharaja Majapahit terakhir, yaitu Brawijaya. Sedangkan ibunya adalah selir raja, seorang wanita Cina muslim. Tempat kelahirannya adalah Palembang. Konon ibunya dalam keadaan mengandung ketika ‘dihadiahkan’ kepada Gubernur kesayangan Maharaja di Sumatera Selatan itu.


Ditemukan juga nama Panembahan Jimbun sebagai gelar raja itu. Kaum peranakan Cina di Jawa menganggap nama itu berasal dari kata Cina : Jin Bun, yang berarti ‘orang kuat’. Fakta ini sepertinya memperkuat anggapan bahwa ia benar-benar putra Maharaja Majapahit terakhir yang beristrikan wanita Cina.


Keterangan itu sempat dikutip Prof. Slamet Muljana dari Universitas Indonesia dalam bukunya : Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa Dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. Namun sumber-sumber yang dikutip Slamet Muljana itu diragukan kebenarannya oleh HJ de Graaf. (Lihat juga buku lain tulisan HJ de Graaf : Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI, Antara Historisitas dan Mitos). HJ de Graaf menduga kata ‘Jimbun’ pada gelar Raja Demak pertama itu berasal dari sebuah wilayah di sekitar Demak yang bernama sama, tempat kelahiran sang raja.


Menurut catatan orang Eropa, nama penguasa Demak pertama itu adalah Pate Rodin (Sr) . De Graaf memperolehnya dari buku Summa Oriental tulisan Tome Pires, seorang duta Portugis dari Malaka yang mengunjungi Jawa pada awal abad XVI. Ilmuwan Belanda itu memperkirakan nama sang penguasa mungkin adalah ‘Kamaruddin’ atau ‘Badruddin’.


Dari buku yang sama dan juga dari dokumen Kerajaan Banten, didapatkan bukti bahwa Raja Demak tersebut bukanlah keturunan Maharaja Majapahit. Di dokumen Kerajaan Banten, ia disebut dengan nama Arya Sumangsang. Ia adalah anak Patih Adipati (gubernur) Demak bernama Cek Ko Po yang beretnis Cina. Sedangkan penguasa Demak pada waktu itu adalah bawahan Majapahit bernama Lembu Sora. Mungkin ia yang bergelar Kertabhumi.


Cek Ko Po, menurut Sejarah Banten, adalah seorang Cina muslim yang berasal dari Gresik, Jawa Timur. Dengan keahliannya dalam berniaga, ia menjadi kaya raya. Dengan kekayaanya tidak aneh jika ia menjadi orang terpandang di kota Demak. Melihat kemampuannya itu, penguasa Demak kemudian mengangkatnya menjadi ‘Patih’.


‘Patih’ yang dimaksud belum tentu merujuk pada jabatan patih seperti yang disandang oleh patih raja Jawa pada umumnya. Tugas pejabat patih pada jaman kuno adalah mengatur segala hal - ekonomi maupun militer - agar pemerintahan dapat berjalan lancar (mirip dengan perdana menteri pada jaman sekarang). Bisa juga yang dimaksud dengan ‘patih’ disana adalah semacam pemimpin masyarakat Cina. De Graaf memperkirakan, (pada awalnya ia) tak lebih dari ‘Kapitan’ Cina, seperti yang lazim dipakai di jaman yang lebih kemudian.


Meskipun hanya menjabat sebagai ‘patih’ penguasa daerah bawahan (ataupun sebagai ‘Kapitan’ Cina), ternyata ia sangat berjasa kepada Maharaja Majapahit. Cek Ko Po-lah yang ‘memimpin’ ekspedisi militer penghukuman atas Palembang dan Cirebon yang membangkang. Dalam bahasa sekarang : menjadikan Palembang dan Cirebon sebagai Daerah Operasi Militer (DOM).


Tidak jelas, apakah Cek Ko Po turun langsung sebagai panglima operasi militer atau hanya mendukung secara finansial. Melihat latar balakangnya yang sukses sebagai pengusaha, agaknya ia membantu dengan kekayaannya. Dan bantuannya itu sangat bermanfaat.


Menurut aturan, yang menjadi panglima seharusnya adalah Lembu Sora/Kertabhumi. Karena Demak merupakan wilayah ‘dalam’ (bukan berstatus mancanegara) Majapahit yang berada di ujung paling barat. Tetapi rupanya ia mendelegasikan wewenang kepada ‘patih’nya itu.


Pada waktu ekspedisi itulah konon anak Cek Ko Po dilahirkan. Entah dengan cara mengawini putri Penguasa Demak itu atau dengan cara membunuhnya, pada akhirnya anak Cek Ko Po marak menjadi Raja di Demak. Dan ternyata, Maharaja Majapahit – sebagai atasan Demak – tidak melakukan tindakan apapun atas penyimpangan itu.


Ada beberapa kemungkinan mengapa Maharaja mendiamkan, yang berarti mengesahkan, kejadian itu. Bisa jadi karena jasa-jasanya yang besar kepada Maharaja. Mungkin pada tahun-tahun itu kekuatan militer Majapahit sudah sedemikian lemahnya. Atau mungkin juga Maharaja mendapatkan keuntungan dengan adanya pengambilalihan kekuasaan di Demak itu. Mungkin juga gabungan ketiga penyebab itulah yang menjadi dasar sikap lembek pemerintah pusat.


Berdasarkan dokumen Majapahit yang paling dapat dipercaya, penguasa tertinggi Majapahit saat itu adalah keturunan cabang keluarga Maharaja yang ada di Kediri. Mungkin juga Maharaja itu memindahkan ibukota ke Kediri. Ada sebuah prasasti yang menyebutkan bahwa pada tahun yang sama - 1478 - terjadi ‘pengambilalihan’ kekuasaan dari Maharaja yang sedang berkuasa oleh Raja (bawahan, mungkin masih keluarga) dari Kediri yang bernama Girindrawardhana.


Cabang keluarga Kediri ini lebih muda dan sebenarnya tidak berhak menduduki tahta. Cabang keluarga yang sebenarnya lebih berhak, karena lebih senior, adalah cabang Sinagara. Salah satu keturunannya adalah Lembu Sora / Kertabhumi yang berkuasa di Demak. Maharaja mendapatkan keuntungan karena ‘saingan potensial’ itu sudah disingkirkan oleh ‘patih’-nya sendiri. Istilah Jawanya : Maharaja melakukan ‘nabok nyilih tangan’ = memukul dengan cara meminjam tangan orang lain.


Ternyata, pemerintah pusat Majapahit salah melakukan perhitungan politik. Membiarkan kejadian di Demak ternyata membuat turunnya wibawa Maharaja di mata penguasa-penguasa daerah lain, terutama penguasa-penguasa yang mulai beralih beragama Islam. Apapun alasannya, Maharaja tidak bisa mengubah keadaan. Insiden Demak membuktikan dengan nyata : Majapahit yang dulu perkasa, sekarang sudah tidak bergigi lagi.


Contoh yang paling jelas dilakukan oleh penguasa Giri-Gresik. Tanpa ragu ia memproklamirkan diri menjadi raja (merdeka) lengkap dengan gelar : Prabu Satmata. Sebelumnya, ia hanya bergelar Sunan Giri I. Yang masih setia mungkin tinggal raja-raja Blambangan dan Bali. Inilah awal keruntuhan Majapahit. Akan tetapi jelas bahwa Majapahit tidak ambruk di tahun 1478 itu. Kemaharajaan Majapahit, meskipun lemah, masih berdiri sampai berpuluh-puluh tahun kemudian.


Bukti nyata keberadaan Majapahit di tahun-tahun setelah 1478 ada di buku Summa Oriental itu juga. Di sekitar tahun 1513, penulis buku itu mengunjungi Tuban. Ia sebagai wakil penguasa baru atas Malaka, diterima dengan baik. Tuan rumahnya bernama Pate Vira. Kemungkinan besar adalah Adipati Wilwatikta, penguasa Tuban waktu itu. Seorang bangsawan Jawa berusia enam puluhan. Meskipun sudah beragama Islam, ia masih mengaku sebagai bawahan Maharaja Hindu di Daha di pedalaman Jawa Timur. Daha adalah sebutan lain dari Kediri.


Karena yang sedang berkuasa di Majapahit saat itu adalah cabang keluarga Kediri, De Graaf dan juga ahli sejarah lain, tidak bisa tidak, tanpa keraguan, menafsirkan Daha atasan Tuban sebagai Kemaharajaan Majapahit. Meskipun Tome Pires tidak menulis satupun kata Majapahit (atau dalam bentuk lainnya) di bukunya, tidak dapat disangkal bahwa yang dimaksud Daha di situ adalah Majapahit.


Ada beberapa bukti lainnya yang menguatkan. Salah satu diantaranya adalah catatan perjalanan seorang Brahmana dari tanah Sunda bernama Bujangga Manik yang sejaman. Ia selalu menyebut Daha/Kediri untuk wilayah yang bernama resmi Majapahit. Jadi, pada paro terakhir Abad XV dan awal Abad XVI itu, Majapahit selalu disebut dengan nama Daha atau Kediri.


Nama sang penguasa Tuban juga bisa dikaitkan. Kata ‘wilwa-tikta’ pada namanya adalah terjemahan Sansekerta untuk kata Jawa ‘maja-pahit’. Cerita rakyat Tuban (Babad Tuban) menyebutkan bahwa ia memperoleh nama itu ketika pada masa mudanya mengabdi (magang) sebagai pejabat tinggi di lingkungan ibukota Majapahit. Namanya yang lain adalah Arya Teja.


Menurut Tome Pires juga (berdasarkan informasi yang diterimanya dari penguasa Tuban itu), nama sang Maharaja di Daha adalah Batara Vigiaja. Tentu, ini adalah lidah Portugis untuk menyebut (Bra) Wijaya. Di buku-buka Jawa – Babad Tanah Jawi misalnya – nama Brawijaya (diikuti dengan nomor I, II, dan seterusnya) digunakan untuk menyebut raja-raja Majapahit. Kata Jawa kuno ‘Bhra’ atau ‘Bhre’ artinya adalah raja.


Dan mahapatihnya bernama Gusti Pate. Menurut catatan-catatan Jawa dan Bali, nama sebenarnya adalah Patih Udara atau Mahudara atau Amdura. Patih itu sangat terkenal dan ditakuti di penghujung senja Majapahit. Menurut Tome Pires juga, sang patih adalah keturunan mahapatih terkenal di era raja-raja Majapahit terdahulu (Gajah Mada ?). Babad Tanah Jawi mengacaukan nama patih ini dengan Gajah Mada yang sudah meninggal kira-kira 150 tahun sebelumnya.


Disamping ditemui langsung oleh Adipati Wilwatikta sang Penguasa Tuban (yang terkesan sangat angkuh dan tinggi hati di matanya), rombongan Tome Pires juga diselidiki oleh utusan-utusan dari ibukota yang dikirim oleh Mahapatih Udara. Tome Pires sangat terkesan dengan sifat ingin tahu mereka akan hal-hal baru. Prestasi orang Portugis menaklukkan Kesultanan Malaka dan mempertahankannya benar-benar dikagumi oleh orang Jawa Majapahit.


Mahapatih itu juga yang memberi gelar penguasa Surabaya sebagai Jurupa Galagam Imteram. Ini adalah ejaan Portugis untuk gelar Jawa : Surapati Ngalaga Ing Terung = Panglima Ulung Dari Terung. Nama penguasa Surabaya itu sebelumnya adalah Pate Bubat. Gelar itu diberikan atas jasa militernya membendung serangan orang-orang Islam dari Jawa Tengah.


Babad-babad Jawa juga menyebut-nyebut orang ini. Adipati Terung mula-mula adalah pembela Majapahit yang gigih, meskipun ia sudah beragama Islam dan mungkin keturunan Cina juga. Konon dialah yang berhasil membunuh Penghulu Rahmatullah, ayah Sunan Kudus, Panglima Demak penyerbu Majapahit. Tetapi kemudian ia (atau penggantinya) berbalik menjadi musuh Majapahit di kemudian hari.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons